Now Playing Tracks

Love? Assalamualaikum :)

Assalamualaikum readers…Well today I’m gonna post about my Love,Fariz Fuhairah.. :) Well…I’m sure..most of you will have relationship..I mean not the official relationship..Hehe…It has been a long time since I posted about my love ^^ Hehe so..Wanna see his picture? ^^

 

I love him so much..but I love Allah and Nabi Muhammad more :D I hope we will last long..Insha’Allah and I hope that our relationship won’t lead us to zinaa…Amin… So..My love is supporting his family :) Schooling in the morning and working from afternoon till night :’) Awww…I hope he doing fine right now :) I miss hearing his voice but I miss hearing the sound of adzan more… :) HEHE anyway…we went thru lots of arguments :( HUHU…well it is because of my jealousy…you know its sucks to have that feeling..anyway..I guess I’m too afraid to lose him?…Maybe… I just hope that Allah…show me the right guy who gonna be with me forever… :’) who I’m gonna married too…So is he the guy? I don’t know….Today is our 20 days together :D HEHE….not even a month and yet we fought so many times…awww is it the hint that Allah gave me? telling me that he is not the right guy for me? :( Who knows….But if he is not for me..Insha’allah Allah will replace another better guy who can lead me to Allah path and we shall enter Jannah together…Amin… :)

Just a little warning to may fellow Muslim readers… please avoid drinking coca cola as it contain alcohol…It may not be found in the ingredient list but..I did some research after my brother showed me a picture which said that Coca cola contain alcohol and alcohol is haram.Heres are some links to support my statement..Though it might or may not contain…Still coca cola ain’t a good drink.

First Link

Second Link 

Third Link 

Forth Link 

DETIK-DETIK KEWAFATAN RASULULLAH

Ketika merasa bahwa ajalnya sudah dekat, Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat di kediaman isteri tercintanya, Sayyidah Aisyah RA. Setelah semua berkumpul, beliau memandang mereka dengan tatapan mata yang sendu. Air mata beliau menitis tiada berhenti.

Di tengah tangisnya beliau bersabda, “Marhaban bikum, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, bertaqwalah kepada Allah SWT. Telah dekat perpisahan dan telah hampir waktu pulang kepada Allah Ta?ala. Hendaklah Ali memandikanku, sedang
kan Fadlal bin Abbas dan Usamah bin Zaid yang menuangkan air. Kemudian kafanilah aku dengan kainku jika kamu menghendaki, atau dengan kain putih buatan Yaman. Jika kamu selesai memandikanku, letakkan jenazahku di tempat tidur di rumahku ini, diatas pinggir lubang kuburku. Kemudian bawalah aku keluar sesaat. Maka yang pertama kali berselawat kepadaku adalah Allah Azza wa Jalla, lalu Jibril, Mikail, Israfil, Izrail bersama pasukannya, kemudian segenap malaikat. Sesudah itu barulah kamu masuk rombongan demi rombongan, dan sembahyangkanlah aku.”

Begitu mendengar wasiat Nabi, para sahabat tidak kuasa menahan tangis. Mereka menjerit…..”Ya Rasulullah, Tuan adalah rasul kami, penghimpun dan pembina kekuatan kami, serta penguasa segala urusan kami. Jika Tuan pergi, kepada siapakah kami kembali?”

Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan kamu di jalan yang terang. Aku tinggalkan untuk kamu dua juru nasihat yang berbicara dan yang diam. Penasehat yang berbicara ialah Al-Quran, penasihat diam ialah maut. Jika kamu menghadapi persoalan yang musykil, kembalilah kepada Al-Quran dan sunnah; dan jika hati kamu kusut, tuntunlah dengan mengambil iktibar tentang peristiwa maut.”

Sejak itu, akhir bulan Shafar, Rasulullah SAW jatuh sakit. Semakin lama penyakitnya semakin berat. Suatu saat, ketika para sahabat berkumpul di kediaman Sayyidah Aisyah RA untuk menjaga Rasulullah SAW secara bergantian, Rasulullah SAW bangun dari tempat tidurnya dengan mengenakan ikat kepala, pertanda sakitnya masih berat.

Di depan para sahabat, beliau bersabda, “Wahai para sahabatku….. Sungguh, demi Allah, saat ini telah kulihat Telaga Haudh di hadapanku. Demi Allah, aku tidak takut syirik akan menimpa kamu setelah aku wafat. Tetapi yang ku takutkan, kamu saling berebut dunia, saling hentam memperebutkan kekayaan. Itu yang aku takutkan.” Haudh adalah salah satu telaga di syurga.

Dari hari ke hari, kesehatan Nabi semakin memburuk, dan para sahabat mulai cemas. Suatu hari, Isnin Subuh, sahabat Bilal mengumandangkan adzan di Masjid Nabawi. Tapi hingga beberapa waktu Nabi belum juga hadir. Ia lalu menyusul ke rumah beliau. Didepan pintu rumah, ia mengucapkan salam, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah.”

Nabi tidak menjawab, tapi Sayyidah Fatimah RA keluar sambil menjawab salam, “Alaikassalam….. Kalau ada perlu lain kali saja. Rasulullah sedang demam.”

Mendengar jawaban itu, Bilal tidak faham. Ia lalu kembali ke masjid, menunggu kedatangan Nabi sampai langit disebelah timur mulai menguning. Kerana waktu subuh hampir habis, Bilal kembali kerumah Rasulullah SAW.

“Assalamu’alaika, ya Rasulullah…. para makmum sudah menunggu dan langit sudah pula menguning,” katanya.

Saat itu, Nabi agak sedar. Dengan tersendat-sendat beliau membalas salam Bilal, lantas bersabda, “Ya Bilal, aku tahu fajar telah mulai tiba. Beri tahu Abu Bakar supaya menjadi imam sembahyang Subuh. Aku sedang sakit, tidak mampu bangun.”

Mendengar jawaban itu Bilal menangis. Dengan langkah terburu-buru tetapi lunglai, ia bergegas kembali ke masjid. Disampaikannya pesan rasulullah SAW kepada Abu Bakar. Begitu melihat mihrab kosong, Abu Bakar menangis. Di mihrab itulah Rasulullah SAW selalu memimpin sholat, mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran dengan suara yang nyaring dan fasih. Pribadinya agung, parasnya berwibawa. Kini mihrab itu kosong. Abu Bakar menangis juga seluruh sahabat, sehingga suasana subuh itu menjadi murung.

Sampai waktu siang, para sahabat berkumpul di masjid menanti berita dari kediaman Rasulullah SAW. Ternyata, Rasululah SAW minta dipapah untuk menuju masjid. Dengan langkah terseok-seok, Nabi keluar rumah dipapah kedua sahabat itu.

Tiba di masjid, Nabi sembahyang sunnah dua rakaat lalu menuju mimbar. Kakinya terasa berat ketika mendaki tangga. Tubuhnya tampak lemah, tangannya bertelekan. Tak lama kemudian beliau menyampaikan khutbah singkat, namun isinya meresap dan menggetarkan hati. Para sahabat bercucuran air mata…..

“Wahai kaum muslimin, kita hidup di bawah kekuasaan Allah dan kasih sayang-Nya. Maka bertaqwalah kepada-Nya dan taatilah perintah-perintah-Nya”. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW berwasiat, “Wahai segenap umat manusia, api neraka sudah dinyalakan, fitnah-fitnah telah datang seperti datangnya malam yang gelap. Demi Allah, kamu tidak akan berpegang kepadaku dengan suatu apa pun. Sesungguhnya aku tidak pernah menghalalkan sesuatu melainkan apa yang dihalalkan oleh Al-Qur?an, dan tidak pula mengharamkan sesuatu melainkan apa yang diharamkan oleh Al-Quran”.

Abu Bakar tersedu sedan sementara Umar bin Khattab menahan napas dan tangis hingga dadanya naik turun. Sedangkan Utsman bin Affan menghela napas panjang, dan Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala dalam-dalam. Dalam hati semua sahabat berkata, “Rasulullah akan meninggalkan kita.”

Lelaki agung itu hampir selesai menunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu semakin nyata, sehingga dengan tangkas Ali dan Fadhal segera tampil membantu Rasulullah turun dari mimbar. Sangat pelan kerana lemah.

Segera setelah itu beliau dipapah untuk kembali pulang ke rumah kediaman. Sejak itu beliau tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur. Keadaan beliau semakin gawat, sampai-sampai kain pengikat beliau pun terasa panas. Panas yang sangat tinggi menyebabkan beliau sering tak sedarkan diri.

Melihat keadaan ayahandanya, Sayyidah Fatimah RA terus menangis, “Ya Allah, alangkah berat penderitaan ayahku. Alangkah beratnya, ya Allah….”

Mendengar tangis putri kesayangannya itu, Rasulullah SAW sempat bersabda, “Bersabarlah anakku sayang. Tidak ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini…” Nabi SAW berusaha menghibur putrinya agar tidak bersedih hati. Namun sabda Beliau itu juga merupakan pertanda bahwa tinggal pada hari itu beliau merasakan penderitaan. Dan setelah itu, meninggalkan keluarga dan segenap kaum muslimin.

Tepat pada waktu dhuha, datanglah Malaikat Izrail yang diutus oleh Allah Ta?ala untuk menjemput Rasul SAW. Perintah Allah Ta?ala kepada Izrail, “Masuklah kalau diizinkan olehnya. Kalau tidak, kembalilah engkau kemari. Berangkatlah dan muncullah di hadapannya dalam wujud seorang lelaki yang sopan dan rapi. “Maka muncullah Malaikat Izrail sebagai seorang lelaki berpakaian putih-putih dengan aroma yang harum mewangi.

“Assalamualaikum, wahai penghuni rumah kenabian….”

“Wa’alaikumussalam. Maaf Rasulullah sedang payah. Datanglah lain kali,” jawab Sayyidah Fatimah RA.

“Assalamu?alaika, ya Rasulullah. Salam sejahtera untukmu selamanya. Bolehkah saya masuk?” ujar Izrail lagi.

Mendengar salam khusus itu, Nabi membuka mata beliau lalu bertanya kepada Fatimah, “Anakku, ada tamu ya? Siapa yang berada di pintu, hai Fatimah?”

“Seorang laki-laki yang bersih sopan, rapi, dan wangi. Ia memanggil-manggil ayah dan minta izin untuk masuk. Saya bilang, Ayah sedang payah. Saya minta dia dia untuk kembali lain kali.”

Tiba-tiba Nabi SAW memandangi putri tercintanya itu dengan tatapan yang menembus jauh, dengan cahaya pekat yang mengabut.

Sayyidah Fatimah RA menggigil kerana hatinya tergetar

“Izinkan tamu itu masuk, Fatimah. Tahukah engkau siapa dia, anakku?” sabda Rasulullah SAW.

“Tidak”

“Dialah penjemput kenikmatan, pemutus nahsu syahwat, dan pemisah pertemuan. Dia adalah malakul maut.”

Sayyidah Fatimah RA terkejut, “Ayahanda, jadi mulai hari ini aku tidak akan lagi mendengar suaramu dan memandangi wajah jernihmu?” Sayyidah Fatimah menangis.

Jangan bersedih dan menangis, jantung hatiku. Engkau adalah keluargaku yang mula-mula akan bersamaku di hari kiamat,” sabda Rasul SAW

Mendengar itu, barulah Sayyidah Fatimah RA lega.

“Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” Tanya Nabi.

“Aku datang untuk berziarah, juga menjemput Tuan jika Tuan mengizinkan. Tetapi kalau tidak aku akan kembali.”

“Engkau datang sendirian? Dimana engkau tinggalkan Jibril?” Tanya Nabi sambil tersenyum.

“Aku tinggalkan dia di langit kedua bersama para malaikat lainnya.”

“Panggil dia kemari.”

Jibril tergagap. Maka Malaikat JIbril pun turun ke bumi, menuju rumah kediaman Rasul, lalu duduk disebelah kepala Rasulullah SAW.

Beberapa saat Nabi memandangi Jibril, lalu dengan sayu beliau bersabda, “Jibril, mengapa berlambat-lambat? Tidakkah engkau tahu saat yang dijanjikan itu hampir tiba?”

“Beri tahu aku bagaimana hakku di hadapan Allah nanti.” sabda Nabi lagi.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat berbaris berlapis-lapis menunggu kehadiran ruh Tuan, seluruh gerbang syurga terbuka sebagai persemayaman Tuan.”

Namun wajah Nabi tetap suram dan gelisah. Lalu sabdanya lagi, “Jibril, bukan berita itu yang kuinginkan. Beritahu aku, bagaimana umatku besok di hari kiamat.”

Maka dengan tenang Jibril menjawab, “Ya Rasulullah, Allah Ta?ala berfirman, „Aku haramkan syurga dimasuki oleh para nabi sampai engkau, Muhammad, masuk terlebih dahulu. Dan aku haramkan umat para nabi masuk ke dalamnya sampai umatmu, Muhammad, masuk terlebih dahulu?.”

Mendengar jawaban itu, barulah wajah Nabi berseri-seri. “Alhamdulillah. Kalau begitu hatiku tenang, wahai Jibril.” Beliau merasa tenteram, kerana kaum muslimin mendapat hak dan tempat istimewa di hadapan Allah SWT. Bibir beliau yang sudah memucat itu menyunggingkan senyum. Senyum istimewa itu juga beliau tujukan kepada Malaikat Izrail ketika beliau mempersilakan sang Pencabut Nyawa itu melaksanakan tugasnya.

Pada waktu yang bersamaan suasana gundah gulana menggantung berat di ruangan sempit itu. Angin kota Madinah yang meniupkan hawa dingin tapi kering tambah dalam menusuk tulang. Sejengkal demi sejengkal matahari pun semakin meninggi ketika Malaikat Izrail berancang-ancang untuk mencabut nyawa Rasulullah SAW.

Penderitaan Nabi SAW semakin menghebat ketika nyawa beliau, yang dicabut oleh Izrail dengan sangat pelan dan lembut, sampai di pusat. Dahi dan sekujur wajah beliau bersimbah peluh. Urat-urat di wajah beliau menegang dari detik ke detik. Sambil menggigit bibir, Nabi SAW berpaling ke arah malaikat Jibril. Mata Rasulullah SAW pun basah, cahayanya pun semakin meredup. “Ya Jibril, betapa sakitnya! Oh, alangkah dahsyatnya derita sakaratul maut ini.”

Sayyidah Fatimah RA memejamkan mata, sementara Ali bin Abi Thalib, yang berada disamping Rasulullah SAW, menundukkan kepala, sedangkan Malaikat Jibril memalingkan muka. “Ya Jibril, mengapa engkau berpaling? Apakah engkau benci melihat wajahku?” tanya Rasul SAW. “Sama sekali tidak, ya Rasulullah. Siapakah yang tega menyaksikan Kekasih Allah dalam kedaaan seperti ini? Siapakah yang sampai hati melihat Tuan kesakitan?” jawab Jibril tersekat-sekat.

Rasa sakit itu kian memuncak. Sekujur tubuh Nabi menggigil. Wajah beliau semakin memucat, urat-uratnya menegang. Dalam keadaan sakit tak tertahankan itu beliau berdoa, “Ya Allah, alangkah sakitnya! Ya Allah, timpakanlah sakitnya maut ini hanya kepadaku, jangan kepada umatku.”

Mendengar sabda Rasul itu, Jibril tersentak. Betapa agung peribadi Rasulullah SAW. Dalam detik-detik paling gawat dan menyiksa, bukan kepentingan sendiri yang dimohonkan, melainkan kepentingan umatnya. Andai beliau mohon agar rasa sakit itu dicabut, pasti Allah SWT mengabulkannya. Namun beliau lebih memilih sebagai tumbal agar derita itu tidak menimpa umatnya.

Ketika Jibril menyedari keadaan di sekelilingnya, Izrail sudah dengan sangat santun menarik nyawa Nabi SAW sampai di dada. Maka napas beliau pun mulai menyesak. Rasa sakit semakin menghebat. Ketika itulah, lelaki agung itu menengok ke arah sahabat-sahabatnya, lalu bersabda dengan suara lirih dan pandangan sayu, “Ushikum bishsembahyangi wa ma malakat aimanakum (Aku wasiatkan kepada kamu untuk mendirikan sholat, dan aku wasiatkan kepada kamu orang-orang yang menjadi tanggungan kamu).”

Sejenak kemudian, keadaan Rasulullah SAW bertambah kritis. Para sahabat saling berpelukan lantaran tak kuat menahan pilu. Dan ketika itulah tubuh Nabi SAW mulai dingin. Hampir seluruh bagian tubuh beliau tidak bergerak-gerak lagi. Mata beliau pun berkaca-kaca dan menatap lurus ke langit-langit hanya sedikit terbuka.

Menjelang akhir hayat beliau, Ali bin Abi Thalib melihat Nabi SAW dua kali menggerak-gerakkan bibir beliau yang sudah membiru. Maka Ali pun cepat-cepat mendekatkan telinganya ke bibir Nabi. Ia mendengar Nabi SAW memanggil-manggil, “Ummati, ummati…. (Umatku, umatku…).” Dengan memanggil-manggil umatnya inilah, Rasul Akhir Zaman itu wafat di pangkuan isteri tercinta, Sayyidah Aisyah RA, pada hari Isnin, 12 Rabi’ul Awwal 11 Hijrah, bertepatan dengan tarikh 3 haribulan Jun 632 Masehi, dalam usia 63 tahun.

Maka meledaklah tangis para sahabat. Sang kekasih Allah telah wafat, membawa cinta yang agung, cinta kepada umat, hingga akhir hayat. Bahkan dibawanya sampai Padang Mahsyar. Ketika nyawa sudah sampai tenggorokan. Pemimpin Besar dan Pencipta Peradaban itu bukan mengkhawatirkan keluarganya, melainkan memprihatinkan umatnya. “Ummati, ummati….”

Sesaat sebelum wafat, sebagaimana tercatat dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW masih sempat berwasiat dan menghibur umatnya. Beliau bersabda, “Wahai umatku, kamu akan melihat hari yang tidak kamu sukai, iaitu perpecahan dan fitnah dari berbagai musibah yang akan datang. Akan tetapi hendaklah kamu bersabar sampai berjumpa denganku di Telaga Haudh kelak…”

Sementara itu, dari sumber kitab Shahih Bukhari diriwayatkan, pada Isnin subuh itu Nabi SAW merasa keadaannya mulai membaik. Maka ketika mendengar adzan, beliau memutuskan untuk pergi ke masjid sekalipun keadaannya masih lemah. Ketika beliau masuk masjid, sembahyang sudah dimulai. Para sahabat pun menjerit, mengucapkan, “Subhanallah, subhanallah”, pertanda gembira dan bersyukur menyaksikan keadaan kesehatan junjungan mereka yang mulai membaik.

Begitu melihat Nabi datang, para sahabat hampir membatalkan sembahyang. Namun, beliau memberi isyarat agar mereka meneruskannya.

Sejenak beliau berdiri menatap mereka dengan bahagia. Wajahnya berseri-seri menyaksikan ketaatan umatnya. Sampai-sampai Annas bin Malik berkata, “Belum pernah aku melihat pandangan yang lebih menakjubkan dari wajah Nabi SAW (ketika itu).” Kemudian beliau tersenyum. Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang menjadi imam sembahyang, menyedari apa yang terjadi di belakangnya. Yakni, pasti Rasulullah SAW ada di masjid. Maka tanpa menoleh, ia pun mundur. Tetapi, Nabi segera memegang pundaknya dan mendorongnya maju agar terus sebagai imam, sementara Nabi SAW sembahyang di sebelah kanan Abu Bakar dalam kedudukan duduk.

Selesai sembahyang, Nabi kembali ke rumah Sayyidah Aisyah RA dipapah oleh Fadlal dan Tsawban, sementara Ali dan Abbas mengikuti dari belakang. Sampai di rumah, Nabi SAW kembali ke tempat tidur, berbaring di pangkuan isteri tercintanya itu. Dan ternyata, sembahyang subuh tadi adalah yang terakhir kali Nabi SAW sembahyang berjamaah dengan para sahabatnya. Ketika itulah segenap kekuatan Nabi SAW melemah.

Saat Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke dalam kamar sambil membawa siwak (sikat gigi dari kayu arak), Sayyidah Aisyah RA melihat Nabi SAW sepertinya menginginkannya. Maka ia pun meminta siwak itu, membersihkannya, lalu memberikannya kepada ayahanda tercinta. Lalu beliau pun membersihkan gigi dengan cekatan, sekalipun keadaannya cukup lemah.  Tidak lama kemudian kesedaran Rasulullah SAW hilang. Sayyidah Aisyah RA mengira beliau tengah menghadapi sakaratul maut. Tapi, sekitar satu jam kemudian, beliau membuka mata. Sayyidah Aisyah RA teringat Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya sebelum ia ditunjukkan tempatnya di syurga.” Sayyidah Aisyah RA pun faham, inilah saat sakaratul maut itu.

Sejenak kemudian, Nabi SAW bersabda dengan suara bergumam, “Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, iaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sahabat yang paling baik.” – Surah  An-Nisaa (4): 69. Setelah itu, beliau kembali bergumam, “Ya Allah, aku memilih bersama Yang Maha mulia.”

Setelah itu, kepala Nabi SAW beransur-ansur terasa bertambah berat di pangkuan Sayyidah Aisyah RA, sehingga para isteri yang lain menangis. Sayyidah Aisyah RA lalu membaringkan kepala beliau di bantal, kemudian menangis bersama isteri Nabi SAW yang lain.

Dalam Sahih Bukhari dikisahkan, begitu mendengar Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar As-Siddiq berlari menuju rumah kediaman Sayyidah Aisyah RA. Namun jasad Nabi SAW telah membujur kaku. Ketika menyingkap kain yang menutup tubuh Nabi SAW, ia menangis sambil memeluk wajah Sang Rasul. Saat memandikan jenazah Rasulullah, Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah, ketika hidup, Tuan semerbak mewangi. Ketika wafat pun, tubuh Tuan tetap wangi.”

Ya… Rasulullah SAW, dan syariatnya, tetap akan selalu semerbak mewangi sampai hari kiamat.

(Source: kisahteladan.info)

Dalam dunia ini ramai orang yang menangis, akan tetapi sedikit sekali yang didapati orang yang menangis kerana takutkan Allah, menangis kerana mengenangkan hari Akhirat, menangis kerana gerunkan Neraka Allah dan rindukan Syurga Allah. Apa yang kita dapati kebanyakan manusia hari ini menangis kerana hal-hal lain yang bersangkutan dengan kepentingan duniawi semata-mata umpamanya menangis kerana tidak tahan dengan penderitaan hidup, menangis kerana kemiskinan, kesusahan, kesakitan, kehilangan orang yang dikasihi, gagal dalam peperiksaan, kecewa dalam percintaan, putus tunang, dicaci maki dan tidak kurang juga ada yang menangis kerana tersinggung atau kecil hati dengan tingkah laku seseorang. Ada juga yang menangis kerana suaminya kahwin lagi dan tidak kurang juga ada yang menangis kerana kurang mendapat perhatian serta kasih sayang dari orang yang disayangi. Alangkah ruginya air mata yang dicurahkan ke bumi, sedangkan tiada nilai sedikit pun di sisi Allah. Malang sungguh bagi mereka yang menangis kerana hal lain, bukan kerana Allah, hidupnya menderita dan setiap tangisannya membawa kehancuran. Tidak kurang juga ada yang sanggup mengambil jalan singkat setelah puas menangis mengenangkan nasib diri iaitu dengan membunuh diri atau melakukan sesuatu perkara yang bertentangan dengan syariat. Akan tetapi alangkah bertuah dan beruntungnya orang yang menangis kerana takutkan Allah, kerana gerunkan azab Neraka dan rindukan nikmat Syurga yang tidak terhingga lazatnya kerana mereka ini akan mendapat jaminan rahmat dan pengampunan dari Allah SWT serta mendapat ketenangan jiwa lahir dan batin. Justeru semakin banyak mereka menangis, jiwa mereka semakin tenang dan iman mereka semakin menebal dan mantap. Sebagai buktinya Allah berfirman yang bermaksud: ” Ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat keterangan Tuhan yang Maha Pemurah, mereka lalu tunduk dan bersujud sambil menangis” – Surah Maryam:58 Pernah berlaku dalam sejarah Islam, seorang Khalifah yang cukup terkenal sifat warak dan zuhudnya yang bernama Khalifah Umar Abdul Aziz, suatu malam beliau bemunajat dengan Tuhan di tingkat atas bangunan kedua, oleh kerana terlalu takutkan Allah dan gerunkan Neraka Allah dan cemas memikirkan nasib diri di Akhirat kelak beliau sujud pada Allah sambil menangis yang teramat sangat hingga titisan air mata beliau menitis ke bangunan bawah melalui celah-celah lubang lantai. Suatu kisah lagi pernah berlaku dalam sejarah hidp Sayidina Ali k.w.j, wakut itu ketika beliau sedang mengambil wuduk dengan serta merta wajah beliau berubah menjadi pucat dan seluruh tubuhnya menggeletar ketakutan. Bila ditanya oleh sahabat yang lain,” Wahai Ali, kenapakah keadaan tuan begini?” Maka dijawabnya ringkas,” Aku takut pada Allah.” Lihatlah, Sayidina Ali berubah mukanya pucat dan cemas serta menggeletar tubuhnya hanya sekadar mengambil wuduk belum lagi mengangkat takbir utnuk mendirikan solat untuk menyembah Tuhan yang Maha Agung. Begitulah hebatnya keimanan dan ketaqwaan para sahabat dan orang-orang soleh dahulu. Antara sifat oarang yang takutkan Allah ada dinyatakan dalam Al Quran yang bermaksud: ” Mereka lalu tunduk dengan dagu-dagu mereka sambil menangis dan keadaan itu akan menambah mereka khusyuk.” – Al-Isra’:109 Di alam Akhirat kelak setiap orang akan menangis kerana menyesal akan dirinya tidak beramal tetapi ada orang yang beruntung, ia mampu ketawa dan senyum disaat orang lain menangis. Siapakah mereka itu? Mereka itulah golongan orang yang dikhabarkan oleh baginda Rasulullah SAW melalui sabdanya yang bermaksud: ” Setiap mata akan menangis di hari Kiamat, melainkan mata yang telah menangis kerana takutan Allah dan mata yang celik kerana berjaga untuk jihad fi sabilillah.” Sabda baginda lagi: ” Seseorang yang menangis kerana takutkan Allah tidak akan masuk ke dalam Neraka meskipun susu dapat kembali ke dalam tetek ataupun unta dapat masuk ke dalam lubang jarum.” Mengikut baginda Rasulullah SAW titisan air mata yang keluar kerana takutkan Allah, nilainya sama dengan titsan darah yang tumpah di medan peperangan kerana jihad di jalan Allah. Anehnya kita hari ini sukar sekali mengeluarkan air mata kerana Allah tapi senang dan mudah sekali mengeluarkan air mata kerana hal-hal lain yang bersangkutan dengan dunia. Kenapa ini terjadi? Jawapannya kerana tipisnya iman dan rasa tauhid pada Allah. Selain dari itu tidak ada rasa kehambaan pada Allah dalam diri. Dari itu untuk keselamatan diri kita, marilah kita berusaha melatih diri menangis kerana takutkan Allah bukan kerana hal lain. Peringkat permulaan kalau mata tidak boleh mengeluarkan air mata, cukuplah hati yang menangis. Tetapi awas, jangan tertipu oleh perangkap syaitan, yakni elakkan diri menangis dikhalayak ramai, nanti sifat ujub menguasai diri. Untuk menyelamatkan hati, menangislah ketika berseorangan di waktu malam yang hening bening, ketika insan lain sedang nyenyak tidur dan dibuai mimpi. Maka ketika ini bangunlah seorang diri untuk bermunajat dengan Allah. Tangiskan dosa-dosa kita yang banyak. InsyaAllah tangisan air mata ketika itu akan ada hasil dan nilainya di sisi Allah.

To Tumblr, Love Pixel Union